Tana Toraja, 16 Juli 2026 – Sebagian besar petani kakao di Indonesia masih menjual hasil panennya dalam bentuk biji mentah sehingga belum memperoleh nilah tambah yang optimal dari produk yang mereka hasilkan. Padahal, melalui pengolahan bahan mentah menjadi produk siap konsumsi dapat meningkatkan pendapatan petani sekaligus memperkuat ekonomi desa jika dilakukan secara kolektif.
Menjawab tantangan tersebut, Widya Erti Indonesia (WEI) menggandeng Akademi Kakao dan Cokelat Indonesia (AKCI) menyelenggarakan Pelatihan Fermentasi Kakao dan Pengolahan Cokelat bagi kelompok petani kakao dan kelompok pengolah cokelat di Lembang Maroson, Kecamatan Rembon, Kabupaten Tana Toraja.
Pelatihan yang berlangsung pada 16 – 26 Juli 2026 di Natsir Eco School (NES) ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam penerapan praktik pascapanen, menghaslkan produksi cokelat khas lokal bernilai tambah, serta memperkuat kolaborasi multipihak dalam pengembangan komoditas kakao di Tana Toraja.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Rural Resilience Initiative (RURISE) yang diinsiasi oleh WEI sejak tahun 2024 di Toraja untuk mendampingi masyarakat desa dalam membangun ketahanan ekonomi berbasis potensi lokal yang tersedia. Kakao merupakan salah satu tanaman yang banyak tumbuh di pekarangan rumah warga dan memiliki prospek ekonomi tinggi apabila dapat diolah menjadi inovasi produk coklat dengan identitas budaya khas Toraja.

Project Coordinator WEI, Endang Sutarya, menjelaskan bahwa peningkatan kapasitas petani perlu diimbangi dengan penguatan kemampuan dalam mengolah produk sehingga dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang optimal.
“Melalui pelatihan ini kami ingin mendorong masyarakat tidak hanya menghasilkan biji kakao, tetapi juga mampu mengolah dan memasarkannya menjadi produk bernilai lebih tinggi. Inovasi seperti cokelat bambu yang memadukan kakao dengan identitas budaya Toraja diharapkan dapat memperkuat ekonomi keluarga sekaligus memperkenalkan produk lokal ke pasar yang lebih luas,” ujar Endang.
Dukungan terhadap pengembangan kakao juga datang dari berbagai pihak. Camat Rembon, Senyta P. Tandirerung, mengapresiasi kolaborasi antara WEI, masyarakat, pemerintah, dan akademisi dalam mengembangkan potensi kakao sebagai salah satu penggerak ekonomi lokal. Sementara itu, Sepsriyanti Kannapadang, S.P., M.Si., Kepala Program Studi Agroteknologi, menilai pelatihan ini menjadi bagian penting dalam meningkatkan kapasitas petani melalui penerapan Good Agricultural Practices (GAP), mulai dari budidaya hingga pengolahan hasil panen.
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kabupaten Tana Toraja, Yohanis Some, S.P., M.M., turut hadir dalam pelatihan ini dan menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mendukung penguatan hilirisasi yang menjadi langkah penting dalam meningkatkan kesejahteraan petani.
“Pemerintah Kabupaten Tana Toraja berkomitmen mendukung pengembangan kakao agar masyarakat mampu mengelola seluruh rantai nilai, mulai dari menanam, merawat, mengolah, hingga memasarkan produknya sendiri. Kami juga akan terus mengupayakan dukungan melalui program peremajaan kakao, penyediaan alat dan mesin pertanian, serta fasilitas pengolahan sebagai bagian dari penguatan ekonomi dan ketahanan desa,” ujarnya.
Melalui kolaborasi tersebut, WEI berharap pelatihan ini menjadi langkah awal dalam memperkuat rantai nilai kakao di Tana Toraja serta mendorong lahirnya produk-produk cokelat lokal yang berdaya saing dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.







