Yang Dulu Tumbuh Liar, Kini Tumbuh dari Tangan KWT di Desa Boncah Kesuma
Gambar 1: Ibu-Ibu KWT bersama pendamping di depan kumbung
Bisakah sesuatu yang selama ini dianggap limbah produksi justru menjadi awal dari sebuah peluang?
Di tengah aktivitas perkebunan kelapa sawit, tandan kosong kelapa sawit (TKKS) kerap dipandang hanya sebagai sisa dari proses produksi. Setelah tandan buah dipanen, TKKS biasanya dibiarkan teronggok di sekitar kebun, menumpuk, mengering, bahkan hingga membusuk dan menjadi tempat hama berkembang biak.
Namun, jika dicermati lebih jauh, tumpukan tersebut belum benar-benar kehilangan nilainya. TKKS menyimpan banyak potensi untuk dimanfaatkan kembali, salah satunya menjadi pupuk organik. Bahkan, dengan pengolahan yang tepat, tandan kosong yang sama ternyata dapat menjadi media budidaya jamur.
Peluang inilah yang sedang dieksplorasi oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Boncah Kesuma, Rokan Hulu, Riau. Bagi anggota KWT, potensi TKKS sebenarnya sudah mereka ketahui sejak lama, tetapi hanya memanfaatkan apa yang kebetulan tumbuh di sana. Kini, mereka mulai mengembangkan potensi tersebut untuk memaksimalkan nilai ekonominya.
Gambar 2: Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS)
Mengembangkan Potensi Baru dari Kebiasaan Sehari-hari
Sebagian besar anggota KWT Desa Boncah Kesuma merupakan bagian dari keluarga petani kelapa sawit. Saat pergi ke kebun bersama suaminya, mereka biasanya turut mengumpulkan buah kelapa sawit yang terlepas dari tandan. Sesekali, mereka juga memanen jamur liar yang tumbuh di sekitar tumpukan TKKS untuk dikonsumsi, bahkan dijual jika stok berlebih.
Namun, karena tumbuh secara alami, jamur tersebut tidak selalu bisa ditemukan dalam jumlah maupun kualitas yang sama. Dari kebiasaan inilah muncul inisiatif untuk mengembangkannya dengan cara yang lebih terencana.
Bersama tim Widya Erti Indonesia di lapangan, anggota KWT memanfaatkan TKKS sebagai media budidaya jamur merang, mulai dari menyiapkan media tanam hingga memahami tahapan budidayanya. Dalam proses ini, TKKS tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk budidaya jamur, tetapi juga untuk memproduksi pupuk organik cair.

Gambar 3: Jamur Merang yang tumbuh di TKKS di dalam kumbung
Untuk mendukung proses tersebut, sebuah rumah budidaya jamur atau “kumbung” dibangun di Desa Boncah Kesuma. Bukan hanya sebagai tempat budidaya, kumbung menjadi ruang bagi KWT untuk mengembangkan keterampilan yang telah mereka pelajari dan berinovasi.
Ketika Ilmu yang Didapat Mulai Menjamur
Setelah sebelumnya belajar, kini giliran anggota KWT untuk mencoba sendiri.
Di dalam kumbung, mereka mulai menyiapkan media dari tandan kosong, menyemai benih, lalu merawatnya bersama. Tidak ada lagi yang sekadar menunggu jamur tumbuh seperti sebelumnya. Kali ini, mereka ikut menentukan bagaimana jamur itu tumbuh. Secara telaten menjaga suhu yang tepat, memperhatikan kondisi kumbung, dan memastikan setiap tahap berjalan dengan baik.
Gambar 4: Ibu-Ibu KWT dan hasil panen Jamur
Hasilnya, beberapa hari setelah benih disemai jamur mulai tumbuh. Dan ketika akhirnya siap dipanen, yang mereka bawa pulang bukan hanya hasil budidaya, tetapi juga sebuah keterampilan baru: kemampuan untuk mengembangkan sesuatu yang sebelumnya hanya mereka temukan secara kebetulan di sekitar kebun.
Namun, panen bukanlah akhir dari cerita. Karena jamur segar hanya bertahan dalam waktu terbatas, KWT mulai mencari cara lain untuk agar hasil panen dapat terus bernilai dengan cara mengolahnya menjadi produk olahan yang bertahan lama.
Panen bukan akhir dari perjalanan
Pada 8 Agustus 2026, KWT Desa Boncah Kesuma memperkenalkan hasil pengembangan mereka dalam sebuah peluncuran produk yang berlangsung di rumah produksi mereka sendiri. Tiga produk diperkenalkan: jamur merang segar, jamur krispi, dan pupuk organik cair Trico Compost. Lebih dari 100 orang turut hadir dan menyambut peluncuran produk KWT tersebut dengan antusias.

Gambar 6: Produk olahan: jamur krispi
Namun, yang paling menarik bukan hanya apa yang mereka perkenalkan, melainkan siapa yang berdiri di baliknya. Ibu-ibu KWT tidak hanya menjadi tuan rumah, tetapi juga ikut menyiapkan acara, memperkenalkan produk, hingga melakukan penjualan. Mereka kemudian mengajak para tamu melihat langsung rumah jamur dan tempat produksi pupuk organik cair, berbagi cerita, sekaligus menjawab rasa penasaran setiap orang yang hadir ke acara ini.
Hari itu, proses panjang dari rangkaian berbagi pengetahuan, diskusi, dan berbagai uji coba akhirnya menghasilkan bentuk nyata. Ada produk yang bisa dipasarkan, ada proses yang bisa diceritakan, dan ada sekelompok perempuan yang kini tidak hanya melihat potensi di sekitar mereka, tetapi jeli dalam menciptakan nilai tambah
Yang Tumbuh Bukan Hanya Jamur
Cerita ibu-ibu KWT di Desa Boncah Kesuma bermula dari apa yang sudah ada di sekitar mereka. Dari tandan kosong kelapa sawit yang tersisa, dari jamur liar yang sesekali ditemukan di sela-sela kebun, dari kebiasaan sederhana yang sebelumnya dilakukan setiap hari.
Namun, ketika dilihat dari sudut yang berbeda, semua itu ternyata menyimpan banyak peluang yang jika dicermati lebih jauh dapat tumbuh menjadi pengetahuan. Pengetahuan dipraktikkan menjadi keterampilan. Keterampilan menghasilkan panen, lalu berkembang menjadi produk yang bisa diperkenalkan dan sehingga berpotensi menjadi pengembangan usaha yang kuat di desa ini.
Karenanya, yang tumbuh di Desa Boncah Kesuma bukan hanya jamur.
Bersamanya, tumbuh pula keberanian untuk mencoba, keterampilan untuk mengembangkan, dan ruang yang aman bagi perempuan untuk mengambil peran lebih jauh dalam meningkatkan nilai ekonomis dari apa yang ada di desa mereka. Sebab sebuah peluang tidak selamanya perlu dicari jauh-jauh. Terkadang, ia sudah ada di hadapan kita, menunggu untuk dilihat, dicermati, dan mulai dikembangkan.






