Orang Kecil yang Berpikir Besar

Wiranatha Krisna

Jika mendengar kata petani, sebagian orang mungkin langsung membayangkan orang kecil atau rendahan yang habis bergulat dengan tanah dan bau matahari. Sebagian besar orang bahkan akan langsung mengecilkan lingkup pembicaraan ketika ngobrol dengan seorang petani. Di pelosok Tana Toraja, di sebuah desa kecil bernama Lembang (Desa) Maroson, seorang petani sekaligus guru honorer mematahkan stereotip tersebut. Ia menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang, tidak hanya keluarga dan penduduk desanya, tetapi juga masyarakat dunia mulai dari Benua Asia, Eropa, hingga Amerika, yang hadir menyaksikan langsung kehidupannya. Dari sosok sederhana ini, api semangat terus menyala dan senantiasa mengingatkan kita bahwa tidak perlu menjadi besar untuk bisa berpikir besar. Inilah sekilas cerita tentang Natsir, si orang kecil yang berpikir besar.

Sejak muda, hidupnya penuh perjuangan. Ia pernah menjadi kuli—membangun jembatan dan jalan, bekerja serabutan demi bertahan hidup. Lalu, bermodal belajar bahasa Inggris di kota, nasib membawanya menjadi seorang pemandu wisata di tanah kelahirannya yang terkenal akan keindahan alam dan budayanya. Ia mencoba mengajak salah seorang tamunya untuk berkunjung ke rumah dan kebunnya yang rimbun. Sang tamu terkesan akan kehangatan keluarga Natsir dan kebun kecil yang dimilikinya. Dari situ, Natsir mulai sering membawa tamunya ke rumah melewati rute trekking untuk sekedar berkenalan dengan keluarganya atau  makan siang bersama. Ia menyadari bahwa kemampuannya berbahasa Inggris membuka peluang yang lebih luas.

Hingga suatu ketika, Natsir muda yang lulusan SMA ini, ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang kuliah agar bisa mengajar di sekolah. Ia memberanikan diri untuk meminjam dana kepada salah seorang tamunya yang sudah beberapa kali ke Toraja dan seringkali mampir ke rumahnya. Sang tamu tanpa ragu meminjamkan dana kepadanya untuk melanjutkan kuliah. Tetapi ketika dana itu sudah diterima, Natsir justru mengambil keputusan berbeda: membangun ruang kelas di bagian atas kebun rumahnya. Sebuah ruang kelas yang akan digunakannya mengajar anak-anak sekitar, tentang bahasa Inggris. Di ruangan berdinding kayu dan beratap ijuk inilah cikal bakal dimulainya Natsir Eco School, sebuah tempat belajar bahasa Inggris gratis untuk anak-anak di desa.

Di sela-sela waktunya sebagai petani dan mantan tour guide, Natsir memiliki sebuah misi untuk membantu anak-anak di desanya belajar bahasa Inggris tanpa harus membayar mahal. Walaupun Bahasa Inggris sudah termasuk dalam kurikulum di Sekolah Dasar, tidak sedikit anak-anak yang belum bisa berbahasa Inggris. Jika ingin menambah jam belajar melalui les, perlu biaya tambahan dan hanya dapat ditemukan di kota. Sedangkan di desa, banyak anak-anak yang tidak memiliki kegiatan setelah jam sekolah selesai. Hal inilah yang juga mengkhawatirkan Natsir: banyak anak menghabiskan waktu dengan nongkrong minum Ballo (tuak khas Toraja), kebut-kebutan motor, atau melakukan aktivitas lain yang tidak bermanfaat bagi tumbuh kembang maupun masa depan mereka. Kekhawatiran itu mendorong Natsir untuk membuka kelas bahasa Inggris gratis, yang cukup “dibayar” dengan mengumpulkan sampah plastik yang murid-muridnya temukan di jalan. Dengan cara ini, ia tidak hanya mengajarkan bahasa, tetapi juga menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini. Baginya, pendidikan dan pelestarian alam harus berjalan beriringan.

Keinginan Natsir untuk menciptakan lingkungan yang asri, tidak hanya tertuang dalam pelajaran bahasanya. Ia juga membuatkan tempat sampah khusus sampah plastik di pinggir jalan masuk desanya. Bahkan, ia juga tidak menggunakan bahan kimia di kebunnya, seperti pestisida maupun herbisida. Natsir menyadari bahwa tanaman yang dihasilkan dari kebunnya akan dinikmati oleh keluarga dan wisatawan yang berkunjung ke rumahnya, ia tidak ingin orang-orang yang ia sayangi mengalami dampak negatif dari bahan kimia tersebut. Bahkan hasil kebunnya jauh lebih produktif jika ia menggunakan bahan-bahan alami.

Selain mengajar dan bertani, Natsir juga mengundang para relawan dari berbagai penjuru dunia untuk berkontribusi di sekolah dan desanya. Mereka datang dengan berbagai latar belakang, ada yang mengajar bahasa, berbagai keterampilan seni, bahkan membantu mengembangkan metode pertanian berkelanjutan. Kehadiran para relawan ini semakin memperkaya pengalaman anak-anak desa dan memperluas wawasan mereka tentang dunia.

Meskipun hidup dalam kesederhanaan, Natsir tidak pernah berhenti bermimpi besar. Ia percaya bahwa setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak, tanpa harus meninggalkan akar budaya dan lingkungan mereka. Melalui pendekatan yang unik, ia berhasil mengajarkan bahwa belajar tidak harus selalu berada di dalam kelas, tetapi bisa dilakukan di mana saja, bahkan di kebunc atau di sepanjang jalan saat mengumpulkan sampah plastik.

Apa yang dilakukan Natsir adalah bukti bahwa seorang petani tidak hanya bisa bertani. Petani juga bisa menjadi guru, inspirator, bahkan seorang agen perubahan. Dalam kesederhanaannya, ia memiliki pandangan yang jauh lebih luas dari banyak orang yang hidup di kota-kota besar. Ia tak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi menciptakannya, satu kelas, satu anak, dan satu plastik sampah dalam satu waktu.

 

***