Program Pendampingan Petani Sawit Swadaya Menuju Praktik Berkelanjutan (Sustainable Independent Smallholder Farmers Program)

Kurangnya pemahaman petani mengenai perawatan tanaman Industri kelapa sawit menghadapi tantangan besar dalam hal keberlanjutan dan tanggung jawab, terutama terkait dengan deforestasi dan penegakan hukum tenaga kerja. Sertifikasi RSPO merupakan salah satu cara untuk menunjukkan bahwa perusahaan berkomitmen pada praktik bisnis yang hijau, adil, dan berkelanjutan. Dalam konteks produk sawit yang berkelanjutan, pelacakan rantai pasok juga sangat penting. Karena pasokan minyak sawit berasal dari pabrik dan pihak ketiga, pabrik serta perusahaan harus menunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan melalui kebijakan NDPE dan kebijakan pengadaan yang bertanggung jawab dengan prosedur pelacakan yang terstruktur dan transparan.

Berdasarkan informasi melalui wawancara, para petani sawit di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat belum pernah mendapatkan pendampingan baik dari pemerintah maupun dari sektor swasta sehingga tingkat pemahaman teknis budidaya tanaman kelapa sawit kurang baik dan benar dan belum ada pihak ketiga yang mendampingi para petani sehingga mereka dalam menjalankan usaha perkebunan masih sendiri-sendiri. Widya Erti Indonesia bersama Goodhope Indonesia melaksanakan pendampingan melalui metode Sekolah Lapangan (SL) kepada para petani kelapa sawit selama 3 bulan dari September sampai Desember 2023

Sekolah Lapangan dianggap sebagai metode pembelajaran yang efektif, terutama untuk orang dewasa, karena pendekatannya yang bersifat tidak formal. Metode ini memfasilitasi pembelajaran dalam kelompok, memperbaiki kemampuan analisis, dan mengembangkan keterampilan pengambilan keputusan. Peserta belajar untuk meningkatkan kapasitas dan kebersamaan kelompok, serta mengimplementasikan program-program kelompok secara bersama-sama.

Program Sekolah Lapangan Kelapa Sawit (SLKS) menghasilkan manfaat bagi 122 petani terlatih yang tergabung dalam 4 Kelompok Tani (KT) yang tersebar di 2 kecamatan, yaitu Kecamatan Sandai dan Kecamatan Simpang Dua. Para peserta berasal dari 4 desa, yakni Desa Sandai dan Desa Istana di Kecamatan Sandai, serta Desa Randau di Kecamatan Sandai, dan Desa Semandang Kanan di Kecamatan Simpang Dua. Dari total peserta, 118 orang adalah laki-laki dan 4 orang lainnya adalah perempuan.

Selama 3 bulan program Sekolah Lapangan Kelapa Sawit (SLKS) berlangsung, para petani diminta untuk mengikuti 10 pertemuan materi belajar sebagai berikut: